Ribuan Keris Pusaka Yayasan Al-Alawiyah Padepokan Nur Sedjati Dicuci Setiap Bulan Maulud

28 Oktober 2020, 06:00 WIB
Tati/KC KETUA Yayasan Al-Alawiyah Yayasan Padepon Nur Sedjati, Buyut Enda, tengah mencuci keris-keris yang dikoleksinya bersama anggota yayasan di Desa Sumber Kulon, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka, Selasa (27/10/2020).*

MAJALENGKA,(KC Online).-

Ribuan keris pusaka dengan beragam bentuk dan usia milik Yayasan Al-Alawiyah Padepokan Nur Sedjati (YA PNS), Desa Sumber Kulon, Kecamatan Jatitujuh,  dicuci pengurus dan anggota yayasan di padepokan, Selasa (27/10/2020). Kegiatan ini rutin dilakukan setiap tahun di bulan Maulud, sekaligus memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw.

Ketua Yayasan Al-Alawiyah Yayasan Padepon Nur Sedjati, Buyut Enda mengungkapkan, ada 1.270.001 koleksi keris, tombak dan pedang yang ada yayasan. Di antaranya keris Tilam Upih yang usianya dianggap paling tua dan diperoleh pada 2013 dari sebuah tempat di Cilacap.

" Keris, tombak dan pedang ini sebagian ada yang disimpan di anggota yayasan, karena tempat tak mampu menampung barang," katanya.

Menurutnya, benda-benda tersebut dirawat dengan dicuci pada bulan Maulid agar tetap bisa bertahan. Mengingat benda tersebut kebanyakan terbuat dari besi sehingga mudah berkarat jika tidak terus dibersihkan. Sedangkan pencucian di bulan Mulud hanya mengambil momentumnya.

“Momen pencucian untuk mengubah persepsi banyak orang tentang pusaka, yang sering dikaitkan dengan mistis. Kami biasa melakukannya pada bulan Mulud ini. Kenapa harus dicuci, karena ini kan bahannya dari besi. Kalau nggak dicuci bisa berkarat dan rusak. Makanya saat nyucipun menggunakan jeruk, untuk menghilangkan karat yang ada pada benda," tuturnya.

Sementara itu, mengenai  sesajen yang disediakan saat pelaksanaan pencucian benda-benda pusaka yang diperoleh dari berbagai wilayah di Indonesia ini, hanya merupakan simbol. Seperti menyediakan tumpeng, yang diartikan kalau berjalan harus lurus. Kemudian aneka bunga yang menjadi campuran pencuci benda menunjukan keceriaan dan kegembiraan.

“Tumpeng itu mlaku kudu lempeng, berjalan harus lurus, selain itu berkumpulnya banyak orang pada acara sebagai bentuk gotong royong. Segala sesuatu dengan gotong royong akan berjalan baik, hidup rukun sauyunan,” kata anggota yayasan Ki Bagus Nana.(Tati/KC)

Editor: Dandie Kabar Cirebon

Terkini

Terpopuler